Aku pernah baca di salah satu bukunya Stephen R. Covey (lupa yang mana :) bahwa setiap orang punya kebutuhan untuk meninggalkan warisan (leave a legacy). Hmm…bicara tentang warisan, aku jadi mikir, apa ya yang sudah kutinggalkan buat ITB? Apakah satu buku Laporan TA dan CD software-nya yang tersimpan rapi di perpustakaan sudah cukup?
***
Pertanyaan tadi muncul gara-gara tadi siang aku ikut acara syukuran wisuda STEI ITB yang berlangsung mulai jam 10.00 hingga jam 12.00 WIB di Ruang Rapat STEI ITB. Acara ini diawali oleh sambutan dari para Kepala Program Studi di STEI ITB, baik untuk Program Sarjana maupun Program Magister. Sebagian mengingatkan bahwa kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang baru. Sebagian lagi mengingatkan untuk tetap menjaga hubungan baik dan berkomunikasi dengan ITB di mana pun kita berada nantinya.
Mulanya tidak ada kejadian yang istimewa, sih, sampai tiba-tiba Mbak Rita yang jadi MC-nya panggil nama aku. “Selanjutnya sambutan dari mahasiswa. Pertama, dari Program Sarjana untuk Teknik Informatika. Saya akan panggil salah satu mahasiswa saja, ya. Baik, kepada Julian, silakan maju untuk menyampaikan sambutan”, kira-kira begitu. Glek! Akhirnya aku terpaksa maju. Karena nggak ada persiapan aku bicara apa adanya saja–apa yang ada di pikiran.
Bicara tentang memulai kehidupan yang baru seperti kata salah satu Ketua Program Studi, aku jadi ingat percakapanku dengan seorang negro di perjalanan pulang dari kota Logan, saat aku ikut konferensi di Utah. Waktu itu sekitar jam 5.00 pagi, aku naik shuttle dari penginapan menuju ke airport di Salt Lake City. Sopirnya bilang kalo kita akan menjemput 5 orang lagi sebelum berangkat ke airport. Orang yang pertama dijemput adalah orang negro tadi yang ternyata berasal dari Ghana. Dia sudah berkeluarga dan punya satu anak yang masih balita. Istrinya mengantar kepergiannya dengan melambaikan tangan di depan pintu rumah. So sweet…
Lalu kami bercakap-cakap di perjalanan. Ternyata dia mau pulang ke Ghana untuk urusan bisnis. Dia punya usaha yang dijalankan di sana dan sedang mengalami kesulitan, sehingga dia harus turun tangan. Dia baru saja menyelesaikan program PhD-nya di salah satu universitas di US. Nah, yang bikin aku terkesan dan selalu aku ingat sampai sekarang adalah kata-katanya ini,
“I have just finished my study and this is the right time for me to start my own life”
Oh my God! Jadi menurutnya kita baru memulai hidup yang sesungguhnya setelah lulus PhD. Padahal, selama ini aku membayangkan dunia yang sesungguhnya adalah saat kita lulus S1 dan memulai karir atau berkeluarga. Aku jadi dapat pandangan baru, deh. Kita jangan cepat puas kalau baru lulus S1. Jalan masih panjang dan kita harus siapkan napas yang lebih panjang untuk meraih yang terbaik yang mampu kita lakukan.
Akhirnya aku sampaikan juga pesan itu di kata sambutanku. Kelihatannya yang hadir setuju dengan yang aku pikirkan (habis gak ada yang protes, sih :) Lalu kututup sambutanku dengan pesan bahwa kita semua harus bersyukur karena telah berkesempatan untuk sekolah di salah satu institut yang terbaik di Indonesia. Karena itu, sudah sepantasnya kalau kita juga bisa memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini. Klise, ya. Tapi biasanya yang klise itu benar :) Fiuuuh. Not bad. Agak malu juga, sih, sebenarnya. Mudah-mudahan yang aku sampaikan ada manfaatnya.
***
Pulang dari acara syukuran wisuda Aku mengantar Zaky pergi ke Gedung CCAR untuk menandatangani ijazah dan mengambil toga. Aku cerita soal acara syukuran tadi ke Zaky soalnya dia datang terlambat, sehingga hanya sempat ikut acara ramah tamah. Zaky agak menyesal karena tidak bisa ikut memberikan sambutan. Beda dengan aku, Zaky memang berniat ingin menyampaikan sesuatu kepada pihak STEI ITB.
“Aku mau bicara tentang benang merah, Jul”, katanya. Lalu dia jelaskan apa yang dimaksud. Hmm…aku pun merasa poin yang akan disampaikannya ini memang penting. Apalagi Zaky pernah ikut program bahasa inggris selama 2 bulan di US, sehingga yang disampaikannya juga dipengaruhi oleh apa yang didapatnya selama di sana.
“Kalau ga salah, sih, nanti masih ada kesempatan, kok”, aku bilang. “Nanti kita ada acara syukuran wisuda untuk IF”. Akhirnya kami sama-sama berniat untuk menyampaikan sesuatu untuk adik-adik kami dan dosen-dosen kami di acara syukuran wisuda Program Studi Teknik Informatika. Zaky akan bicara soal benang merah dan aku akan bicara tentang hal yang lain. Kira-kira apa, ya?
***
Yah…alhamduliLlah. Setidaknya kami sudah berniat untuk meninggalkan sesuatu yang lain. Jadi, seharusnya bukan hanya Laporan TA dan CD software di perpustakaan saja yang akan kami tinggalkan :) Semoga saja bisa terlaksana dengan baik. Aamiin

13 comments
Comments feed for this article
April 16, 2009 at 10:33 am
novi
Wah, sayang… tadi ga hadir syukuran STEI. Ditunggu ya Jul, warisannya nanti malam :)
Julian: Heu, ternyata ga ada kesempatan :) Lain kali mungkin ya
April 16, 2009 at 7:44 pm
Albaz
wah, kang julian lulus ga bilang2 euy. selamat ya kang.
selanjutnya, jangan lupa maem2nya, ya. he2.
Julian: Makasih, Baz :)
April 17, 2009 at 12:12 am
rifqie
dulu pas di kampus juga saya sempet mikirin tentang legacy ini, ju.
tapi dulu ga kepikiran utk meninggalkan legacy berupa TA yang baik dan bermanfaat. pikiran saya dulu masih terlalu kerdil dan berpikir “ini TA selesai aja udah syukur”. hehe.. (but i do hope now that my TA will give any good for ITB, at least for its students). instead, saya pengen ninggalin legacy di himpunan dan ME (dulu) berupa perbaikan sistem organisasional. hmmm…tercapai gak ya? .:wondering:.
congratz for the graduation anyway
wish u a successful life :)
Julian: Dulu saya ngerasa kaya gitu, soalnya saya lihat2 TA punya alumni juga, sih. Dari situ akhirnya muncul keinginan supaya Laporan TA saya juga dibaca, he he. Pas syukuran itu juga Kak Saska cerita soal HME, lho. Katanya HME sekarang lebih baik pengelolaannya dibandingkan sebelumnya. Bisa jadi itu karena perbaikan yang udah dibuat :)
Congratz! Wish you all the best, too
April 17, 2009 at 12:14 am
rifqie
tambahan:
btw, kalo legacy-nya itu pesan2, biasanya sih curhat karena kita melihat suatu hal yang penting tetapi belum bisa mencapai/mewujudkan itu. iya gak? hehe….
Julian: Betul juga. Mirip kaya saran-saran di Laporan TA, kadang memuat hal-hal yang belum bisa kita lakukan atau perbaikan yang perlu ditambahkan. Itu juga bisa jadi masukan yang berharga :)
April 18, 2009 at 3:04 pm
morin
asyiiik yang baru di wisuda…
woooow…kalo saya yang dipanggil pada acara semacam itu…dah pingsan duluan plus kejang2 hehe…
kang kalo toga ada yang ukurannya S ga? (ups….maaf)
do’akan adik2mu menyusul segera
Julian: Ada kok yang S, tenang aja :) Aamiin…
April 22, 2009 at 1:58 am
4z1z4h
Quote nya sih sederhana, tapi mampu membakar semangat dan tekad saya …
Bener ya ternyata :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”
inspiring banget :)
Julian: Terima kasih. AlhamduliLlah…
April 24, 2009 at 6:03 am
dela
juuuuuls…
ada award di tempatku..
diambil yaaa??
Julian: Award? Alhamdulillah… Makasih, makasih
April 29, 2009 at 8:34 am
Yasrid
selamat Jul…
moga ilmunya barokah
Julian: Makasih… :) Doakan segera menyusul, ya
May 1, 2009 at 12:34 am
rifqie
oi juju,,,
aku baru ngeh kalo di blogroll-nya ada kesan2nya juga.
huehehehe..
sibuk apa sekarang?
(jgn2 sibuk cetak2 undangan. hihihi)
diupdate dong blog-nya, pak.. :)
Julian: Yang ada juga sekarang sibuk cetak2 transkrip dan resume…
May 12, 2009 at 2:49 am
dpujia
barakallah julian,,
baru tau kalo julian lulus april kemarin :)
selamat ya, semoga ilmunya barokah dan bermanfaat luas.
selanjutnya mau kemana lg ju? langsung lanjut truus sampe dpt gelar PhD, baru setelah itu melirik ‘dunia yang sesungguhnya’ :)? btw, memangnya maksud dari ‘dunia yang sesunggunya’ itu seperti apa ju? jadi kalo sedang kuliah bukan sesungguhnya?
Julian: Wah, Teh Dwi ketinggalan info, nih :) Doakan saja dapat yang terbaik, ya. Yah, universitas kan miniatur negara, atau malah dunia, nama lainnya “The Universe” :D
May 24, 2009 at 2:05 am
muthi hael
dunia yang sesungguhny?heummm
jadi inget kata dosen saya..”muthia,,kamu jangan nikah dulu, S2 dulu baru nikah” bahkan dosen saya itu baru nikah setelah gelas S3 diraihnya…
jadi inget kata pak agung..
percakapan para dosen kalo gelar S3 diraih ” kapan profesor”
kalo anak S1 ” kapan S2?”,,, kalo anak S2 “kapan S3?”
dan satu hal yang membuat ucapan pak Agung ngejleb di hati saya..
“tidak perlu menjadi profesor dulu untuk dapat taat kepada Allah”
subhanallah..
Segala sesuatu menjadi benar adanya bila sesuatu itu dapat mendekatkan kita pada Allah.. mari kta jadi Doktor yang semakin soleh :)
kayak mas2 dosen pengurus Salman :)
siap2 jadi pengurus Salman y ju..hehe
Barakallah..doakan saya juga (udah lama g ngobrol sama jul, hihi,)
Julian: Ya, insya Allah, Mut :) Do your best!
June 13, 2009 at 7:27 pm
sukem06
barakallahu fik, akh Julian atas kelulusannya..
huhuhu… cerita dong gimana di Utah, gimana bisa kesana, gimana kondisi Islam disana, gimana makanan halal disana..
gimana…? (hehe., banyak maunya nih..:P)
Terima kasih, Kang :)
Di Utah waktu itu cuma sebentar, karena ada konferensi. Saya bisa ikut soalnya kebetulan ada program scholarship buat mahasiswa. Seleksinya lewat penulisan essay. Karena cuma sebentar, jadi ga bisa banyak cerita, Kang :) Btw, kapan dong pulang ke Indonesia?
July 15, 2009 at 12:03 pm
yoe
blogwalking here…
dan terpaku pada kata “Salt Lake City”, i have my American mom.. she lives at Barkeley City, and her daughter had finished her study at Utah.. i miss her.. it almost 13 years ago… hihi…. link: http://yusako.blogspot.com/search?q=my+american+mom..
salam kenal.. :)
Julian: That’s awesome :) Salam kenal juga